Pagi ini bisku, 973, jurusan Rawamangun – Grogol via Tanah Abang, terlambat lagi masuk terminal. Aku hanya bisa merutuki diriku sendiri, kenapa sehabis shubuh tadi harus tidur lagi. Alarm HP-ku berdering keras, sudah jam 07.20 rupanya. Aku langsung bergegas ke kamar mandi. Tak ada waktu lagi untuk sekadar merenung, aku segera menyelesaikan mandiku. Kata ibuku, “Kayak putri Solo aja, lama di kamar mandi! Ngapain aja sih? Dandan ya?”, begitu ia sering menegurku. Hari-hari belakangan ini aku memang agak sibuk.
Sambil menunggu bis datang kukeluarkan Ipod 2 Gb dari dalam saku celanaku. Sudah hampir setengah tahun benda ini setia menemaniku kemana-mana, walau sempat tergadai kepada seorang saudara karena terdesak masalah keuangan, akhirnya si abu-abu manis bisa kembali lagi ke dalam saku celanaku. Bahagia rasanya, aku cinta Ipodku. Kutekan tombol ditengah berwarna silver, dibawah tulisan MENU, lalu kupilih menu Shuffle Songs. Tak sengaja lagu yang mengalun “Rindu Selintas Bayang” buah karya Ebiet G. Ade. Aku suka lagu ini. Syairnya pas benar menggambarkan keadanku,
Mengapa dadaku terasa berdebar-debar
Ketika engkau menatapku jiwaku terasa terbang melayang
Kupejamkan mata dan kuusir bayang-bayang wajahmu
Sambil terus aku mencoba menerka apakah keinginanmu
Mengapa engkau pergi saat aku mencoba
Menghampirimu dengan gemetar nyaliku telah rebah terkapar
Tolong beri aku isyarat harus terus ataukah menyerah
Jangan biarkan aku terjerembab kedalam ketidakpastian
Semakin jauh aku pergi semakin terasa rinduku
Malangnya angin tak berhembus datang ke arahku
Seiring berlalunya waktu kubertanya kepada ilalang
Haruskan aku mencarimu ataukah mesti aku lupakan
Sambil tak sadar, kemudian aku bernyanyi dengan suara lirih. Pikiranku melayang-layang lagi, mengembara jauh, jauh sekali. Hatiku terasa penuh sesak, jika tak malu mungkin sudah menitik air mata ini. Hati yang kurang dengan keberuntungan.
Jam 08.25, bisku baru datang. Lagu dalam Ipodku sudah berganti dengan Queen, Maroon 5, Jamie Cullum, Metallica, Joe Satriani –Gado-gado. Pikiranku masih melayang-layang jauh. Sudah hampir sebulan ini aku menangis dalam sujud-sujudku di tengah malam. Aku “menggugat” kepada “Pemilik Hidup”, atas ketidakberuntunganku, atas hidupku, atas cintaku.
Aku menangis karena ketidakmampuanku, ketidakberdayaanku mengisyaratkan cinta sehingga hatiku terjebak dalam ketidakmenentuan dan terpisah dari yang kucintai. Aku memohon agar cintaku kepada selainNya tak akan pernah lebih dari cintaku kepadaNya. Aku tidak menyalahkan Dia, tak akan pernah lagi. Aku menyalahkan diriku karena kepengecutanku. Aku meminta kepadaNya untuk menguatkan hatiku dan memohon memberikanku kesempatan lagi untuk bisa mencintai dan dicintai. Juga memohon ampunanNya atas kelancanganku.
Aku juga menagis karena keterbatasanku yang tak mampu menerima isyarat dari mereka yang mungkin saja mencintaiku tapi tak mungkin membalasnya karena hatiku sudah tertambat pada yang lain, aku memohon maaf atas ketidakpekaanku, ketidakpedulianku. Sungguh, aku baru mamahami bagaimana rasanya bila cinta tak berbalas dan maafkanlah aku atas keterbatasanku.
Tapi tangisku kian menjadi, bila mengingat dua orang yang saling mencintai tetapi mereka memilih untuk menunjukkan cintanya dengan cara menyakiti hati masing-masing. Tak tahukah saling mencintai adalah anugerah paling indah dariNya? Tak bisakah mensyukuri itu? Untuk mereka, aku hanya bisa berdoa semoga diberi kearifan dan keikhlasan dalam memcintai serta hati yang lapang untuk saling memaafkan. Sayang rasanya, melihat bunga yang sedang mekar harus layu sebelum berkembang karena “pupuk” yang salah.
Tak terasa bisku sudah sampai di depan bundaran HI. Aku harus menyambung lagi dengan Bis TransJakarta untuk sampai di kantorku. Bulan Ramadhan tinggal seminggu lagi, kuharap ibadahku, sholatku, tadarusku, tarawihku, sujudku, munajatku kali ini tak akan sia-sia lagi. Mudah-mudahan kali ini Dia sudi mengijabah doa-doaku. Bantu aku ya Alloh, jangan biarkan aku menangis lagi. Bantu aku temukan lagi cintaku, temukan lagi hidupku. Jauhi aku dari ketidakberuntungan.
06 September 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar